NOTE :

Jumat, 05 November 2010

Sinopsis Becoming a Billionare episode 2

Seok Bong membuka halaman belakang buku itu dan tertulis nomor telepon seseorang. Seok Bong melihat ponselnya. Tapi sayang ponselnya mati karena emptybat. Di meja samping tempat tidur, ia melihat ponsel milik Shin Mi.
"Telepon aku." kata Woon Suk pada Shin Mi.
"Tidak ada alasan bagiku untuk menyimpan nomor teleponmu di ponselku." kata Shin Mi acuh.
"Tidak. Aku tahu kau ingin meneleponku."
"Kubilang tidak!" seru Shin Mi kesal. "Baiklah, jika nomor ponselku muncul di layar ponselmu, maka aku akan melakukan apa yang kauminta."
"Benarkah?"
"Tapi itu tidak akan pernah terjadi." kata Shin Mi seraya berjalan pergi.
Beberapa saat kemudian, ponsel Woon Suk berbunyi. Ia mengambil ponselnya. "Shin Mi." panggil Woon Suk.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Shin Mi kesal. "Angkat sama ponselmu."
Woon Suk memperlihatkan layar ponselnya pada Shin Mi. Itu telepon dari Shin Mi.
Shin Mi bergegas ke kamarnya, Woon Suk mengikutinya. Disana Shin Mi melihat Seok Bong sedang menelepon dengan ponselnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Shin Mi marah.
Seok Bong menelepon dan ponsel Woon Suk berbunyi.
Shin Mi merebut ponselnya dari Seok Bong. "Apa yang kau lakukan?!" tanyanya. "Kenapa kau menyentuh ponselku?"
"Maafkan aku." kata Seok Bong. "Aku butuh..."
"Orang macam apa kau? Apapun yang kau lakukan, kau selalu..."
"Maafkan aku."kata Seok Bong menyesal. "Aku mengalami situasi yang sulit."
"Situasi macam apa?" tanya Shin Mi. Seok Bong tidak bisa menjawab.
"Apapun situasimu, terima kasih." kata Woon Suk. "Aku berhasil memastikan takdir kami."
"Kakak!" protes Shin Mi.
"Kau bekerja disini?" tanya Woon Suk. Ia melihat nama Seok Bong di seragan Seok Bong, kemudian memberikan kartu namanya. "Telepon aku. Pergilah."
"Tunggu!" larang Shin Mi.
"Tidak apa-apa, kau boleh pergi." kata Woon Suk.
Seorang nenek aneh marah-marah pada putranya. Putranya itu adalah Presiden Perusahaan Seo Rin. Si nenek bersikeras ingin mendengarkan CD, tapi CD player rusak. Kang Woo bergegas mencari Seok Bong untuk membantu.
Seok Bong punya ide. Ia menyanyikan lagu yang ingin didengarkan si nenek. Nenek jadi senang.
Seok Bong sengaja memperlihatkan kalungnya, tapi konglomerat itu tidak mengenal kalungnya.

Shin Mi kembali ke ruang pesta.
"Model yang kuno." kata Tae Hee ketika melihat Shin Mi. "Bahkan anjingku saja tidak mau memakainya."
"Pasti sangat sulit." kata Shin Mi. "Tidak bisa bernafas hanya demi fashion. Seperti kau berusaha keras agar bisa masuk dalam pakaian itu. Hati-hati, itu bisa meledak."
"Kau!" teriak Tae Hee marah.
Seok Bong dan Kang Woo melayani para tamu di pesta. Ketika melihat Shin Mi, ia bersembunyi di balik nampan.
"Woon Suk!" Tae Hee memanggil ketika melihat Woon Suk datang.
Woon Suk tersenyum dan mendekati Tae Hee. Tae Hee sangat senang. Ia meletakkan gelasnya dan mengulurkan tangan agar Woon Suk mengajaknya berdansa.
Tapi Woon Suk malah pergi dan berjalan mendekati Shin Mi.
"Maukah kau berdansa denganku?" tanya Woon Suk. Shin Mi mengernyit sebal. "Kau bilang, kau mau melakukan apapun yang kuminta."
Shin Mi terpaksa menerima ajakan Woon Suk. Tae Hee kelabakan.
Shin Mi berdansa di tengah ruangan pesta bersama Woon Suk.
"Perusahaan Frontier mengalami kemanjuan, bisa berdansa dengan putri Perusahaan Oh Sung." komentar salah seorang tamu.
"Lalu apa bagaimana dengan Boo Tae Hee?" tanya temannya.
Mereka berdua menoleh melihat Tae Hee. Tae Hee mengangkat gelasnya pada para tamu, berusaha menekan rasa marahnya.
Tanpa sengaja, Shin Mi menginjak kaki Woon Suk. Shin Mi sangat tidak suka jika menjadi pusat perhatian. Ia merasa sangat malu.
Seok Bong menawarkan minuman pada Tae Hee, kemudian melihat ke arah Shin Mi dan Woon Suk yang sedang berdansa. "Ia kelihatan seperti seorang putri karena berdiri bersama pangeran." gumamnya. "Mereka terlihat cocok."
Tae Hee menoleh marah pada Seok Bong, lalu menamparnya. Gelas-gelas yang dibawa oleh Seok Bong jatuh dan pecah di karpet.
Mendengar keributan itu, Shin Mi bergegas mendekati.
"Kenapa kau memukulku?" tanya Seok Bong.
Tae Hee berjalan pergi, namun Seok Bong menarik tangannya.
"Kenapa kau memukulku?" tanya Seok Bon lagi.
"Beraninya kau menyentuhku dengan tanganmu yang kotor!" bentak Tae Hee. ia berpaling pada Shin Mi. "Beginikah caramu mendidik karyawanmu?"
"Memangnya apa yang kulakukan?!" tanya Seok Bong, tidak terima. "Apa kau tidak pernah belajar bagaimana caranya menjadi manusia?!"
Tae Hee mengangkat tangannya lagi untuk menampar Seok Bong, tapi Woon Suk menahan tangannya.
"Aku ingin dia minta maaf!" tuntut Seok Bong. "Gadis ini memukulku tanpa sebab!"
Shin Mi menampar wajah Seok Bong. "Jika kau seorang karyawan hotel, maka berlakulah seperti karyawan." katanya. "Apa yang akan kau dapatkan dengan bersikap angkuh? Kau dibayar bukan untuk bersikap angkuh."
Tae Hee berjalan pergi sambil marah-marah. Seok Bong tetap tidak bisa menerima perlakukan itu.
Tae Hee marah besar. Ia merobek-robek foto Woon Suk dan Shin Mi. "Bawakan aku kue!" perintahnya pada asistennya.
"Masih banyak laki-laki di dunia ini." hibur asisten Tae Hee.
"Tapi tidak ada yang seperti Choo Woon Suk!" kata Tae Hee. "Dia adalah aksesoris yang bagus untukku. Aku tidak akan membiarkan orang yang paling kubenci merebutnya."
Asisten Tae Hee kembali dengan membawa timbangan. "Kau pernah bilang, jika kau meminta kue, aku harus membawakanmu ini."
Tae Hee menimbang berat badannya di atas timbangan. "Kudengar Hotel Oh Sung berusaha mendapatkan lahan di Jeju, bukan?" tanyanya. "Kita harus mendapatkan lahan itu terlebih dulu."
"Tapi kita membutuhkan banyak uang." kata asisten Tae Hee. "Bagaimana jika ayahmu tahu?"
Tae Hee tidak memperhatikan. "Ah, berat badanku bertambah dari kemarin!" serunya kesal. "Tunggu dan lihat saja. Jika kau merebut aksesorisku, maka aku akan membalas dendam."
Ayah Shin Mi menelepon. Ia bertanya kenapa Shin Mi tidak pulang ke rumah setelah kembali dari New York.
"Jika ini tentang kencan buta, aku sama sekali tidak tertarik." kata Shin Mi dingin.
"Aku hanya ingin membuatmu bahagia." kata ayahnya.
"Apakah ibu bahagia hidup denganmu?" tanya Shin Mi sinis. "Kau pasti lebih tahu dibanding orang lain. Yang kupedulikan hanyalah pekerjaan, sama seperti ayah."
Shin Mi menutup teleponnya.

Shin Mi keluar dari kamarnya dengan ekspresi murung.
"Direktur, kau mau kemana?" tanya Han So Jung , asisten Shin Mi. Shin Mi tidak menoleh dan terus berjalan cepat. "Pergi ke makam lagi?" gumam So Jung.
Shin Mi mengendarai mobilnya. Tidak lama setelah kepergiannya, Seok Bong dan Kang Woo berjalan menuju parkiran mobil.
Mengingat ibunya membuat Shin Mi sedih.
"Ibu, tunggulah sebentar lagi." tangis Shin Mi kecil. "Ayah akan segera datang."
Ibu Shin Mi sekarat di rumah sakit dan hampir meninggal, namun ayah Shin Mi tidak juga muncul di rumah sakit itu. Saat hari pemakaman ibunya, ayah Shin Mi baru datang. Shin Mi sangat marah pada ayahnya. "Apakah perusahaan begitu penting?!" teriak Shin Mi, menangis. "Ibu menunggumu!" "Aku harus melakukan sesuatu yang sangat penting." kata ayahnya. "Lebih penting dari ibu dan keluarga kita?!" teriak Shin Mi. "Dia sangat ingin melihatmu hingga meninggal dengan mata terbuka!""Maafkan aku, tapi bagiku perusahaan juga merupakan hal yang penting." ujar ayahnya. Shin Mi menangis dan pergi meninggalkan ayahnya.
Shin Mi mengendarai mobil sambil menangis. Tiba-tiba ponselnya berdering.
Shin Mi berusaha mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya. Ia bisa mengeluarkan ponsel dari dalam tas, tapi ponsel tersebut terjatuh.
Ketika akhirnya ia berhasil mengambil ponsel dari bawah jok, mendadak sebuah truk besar melaju ke arahnya. Shin Mi membanting stirnya ke pinggir untuk menghindari truk. Mobilnya jatuh ke perbukitan. Kepalanya terbentur stir, kemudian pingsan.
Seok Bong dan Kang Woo naik sebuah mobil, melewati tempat kejadian kecelakaan.
Sok Bong menyuruh Kang Woo menghentikan mobil, dan turun ke bukit.
"Ini berbahaya!" seru Kang Woo. "Jika terjadi kesalahan, kita bisa mati!"
Seok Bong melihat wanita yang ada di dalam mobil. Ia adalah Shin Mi. Seok Bong berusaha mengeluarkannya dari dalam mobil.
"Bong, apa yang kau lakukan?!" teriak Kang Woo panik. "Bong, ayo kita pergi!"
Api muncul dari mesin mobil.
"Api!" teriak Kang Woo. "Mobil itu akan meledak!"
Seok Bong mengambil batu dan berusaha memecahkan jendela mobil. Setelah itu, ia memukulkan batu pada kunci sabuk pengaman dan menarik Shin Mi keluar.
Mobil meledak.

Shin Mi terbangun di rumah sakit.
"Dimana penyelamatku?" tanya Shin Mi cemas pada perawat begitu ia sadar. "Apakah ia mati?"
Seok Bong memegangi tangan kirinya yang terluka.
"Kau hampir saja mati!" seru Kang Woo, di ruang tunggu rumah sakit. "Bagaimana jika mobil meledak? Memikirkannya saja aku ketakutan!"
"Aku juga tahu." kata Seok Bong.
"Bong, apakah kau menyelamatkannya karena ia adalah cucu pemilik Perusahaan Oh Sung?" tanya Kang Woo. "Kau tidak akan membahayakan hidupmu sendiri demi menyelamatkan orang yang tidak kau cintai. Jadi, kau melakukannya demi uang."
Shin Mi mendengar pembicaraan mereka.
Seok Bong terkejut mendengar ucapan Kang Woo. Ia tersenyum.
"Warisan gadis itu lebih dari 40 triliun won." kata Kang Woo.
"Darimana kau tahu?" tanya Seok Bong.
Kang Woo memeluk Seok Bong, tertawa senang. "Jika kau mendapatkan uang, maka kau akan membagikan sedikit padaku, bukan?"
Shin Mi marah. Ia berjalan kembali ke kamarnya.
"Berapa kira-kira uang yang akan ia berikan?" tanya Kang Woo bersemangat.
"Kang Woo." ujar Seok Bong pelan. "Aku menyelamatkannya bukan karena uang. Aku tidak akan mempertaruhkan nyawaku demi uang. Melihatnya sekarat, membuatku ingin menolongnya. Hanya itu. Mungkin jika aku melakukan hal terpuji, langit akan bangga dan membiarkan aku bertemu dengan ayah."
Kabar mengenai Seok Bong, yang berhasil menyelamatkan Shin Mi, menyebar dengan cepat. Semua orang sangat senang dan memberi selamat padanya.
So Jung memberikan kunci suite room pada Seok Bong. Ia kelihatan sangat kagum pada Seok Bong karena Seok Bong rela mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan orang lain.
Seok Bong masuk ke kamar barunya yang mewah. Ia bertingkah laku layaknya orang kaya. Ia bahkan memberi tip sebesar 500 won pada Kapten Hotel, bosnya sendiri. Kapten Hotel kesal setengah mati melihat sikapnya yang sok.
Malamnya, Shin Mi mengajak Seok Bong makan malam bersamanya.
Shin Mi agak bingung melihat Seok Bong makan dan bertingkah laku layaknya orang kaya. Ia tahu semua yang biasa dilakukan orang kaya. Seok Bong bercerita bahwa ia sengaja berlatih agar bisa bersikap seperti itu.
"Sebegitu inginkah kau menjadi orang kaya?" tanya Shin Mi.
"Karena ini adalah takdirku." katanya percaya diri.
Setelah selesai makan, Shin Mi berterima kasih lagi pada Seok Bong. "Terima kasih karena sudah menyelamatkan aku." katanya. "Kau adalah penyelamat hidupku."
Seok Bong tersenyum. "Aku senang bisa menjadi penyelamatmu." katanya. "Situasi saat itu sangat berbahaya, tapi aku tahu kau akan bertahan hidup."
'Terima kasih." kata Shin Mi lagi. "Bekerja keraslah untuk Hotel Oh Sung."
Shin Mi bangkit dari duduknya dan berniat pergi.
Seok Bong bingung. "Apakah hanya begini?" tanyanya.
"Apakah ada yang lain?" Shin Mi bertanya balik. "Kau telah menyelamatkan hidupku. Aku sangat berterima kasih dan mengajakmu makan malam. Bukankah itu cukup?"
Seok Bong benar-benar bingung. Beginikah sikap seorang putri keluarga konglomerat? "Hanya makan malam, dan selesai?" tanyanya.
"Kenapa?" tanya Shin Mi dingin. "Karena aku memiliki warisan 40 triliun won, maka kau berpikir aku akan memberikan uang padamu?"
"Maaf?"
"Aku bisa melihatnya di wajahmu." kata Shin Mi.. "Kau akan melakukan apapun demi uang. Bahkan mempertaruhkan nyawamu sendiri. Jika aku bukan putri Perusahaan Oh Sung, kau tidak akan menyelamatkan aku."
"Kau benar." kata Seok Bong, sudah kepalang tanggung. "Jika kau tahu, kenapa kau hanya memberiku makanan?"
"Lalu apa yang kau inginkan?"
"Kau lebih tahu dariku." jawab Seok Bong.
"Jangan meminta uang! Bagiku, uang sangat berharga walaupun aku memiliki banyak." Shin Mi berjalan pergi.
Seok Bong menemui Kapten Hotel dan meminta diizinkan bekerja kembali. Kapten Hotel marah-marah padanya.
"Apakah aku harus keluar?" tanya Seok Bong mengancam. "Jika aku keluar, lalu siapa yang akan mengurus suite room Direktur Shin Mi?"
"Siapa yang menyuruhmu keluar?" tanya Kapten, mencegah Seok Bong pergi. Akhirnya ia mengizinkan Seok Bong bekerja kembali di hotel.

Dokter Seok Bong menelepon, mengatakan bahwa hasil tes kesehatan sudah keluar. Seok Bong bergegas pergi ke rumah sakit.
"Kanker, katamu?" tanya Seok Bong shock. "Tidak mungkin. Aku tidak merasakan sakit sama sekali."
"Mulai saat ini, kau akan merasa sakit." kata Dokter.
"Kanker apa?" tanya Seok Bong. "Apakah aku akan mati?"
"Ada satu solusi." kata Dokter. "Ada satu peralatan baru dari Amerika. Kesempatan hidupmu bisa mencapai 80%. Tapi harga alat itu sangat mahal."
Seok Bong berusaha mendapatkan uang 100 juta untuk membeli alat tersebut. Ia berniat meminjam uang pada orang tua Kang Woo (Seok Bong menyewa sebuah kamar di rumah keluarga Kang Woo).
"Aku tidak punya uang." kata ibu Kang Woo.
"Kita bisa menjual rumah ini." kata adik Kang Woo. Tentu saja ibu Kang Woo menolak. "Kakak." panggil adik Kang Woo pada Seok Bong. "Tenang saja, aku akan menjual hatiku."
"Menjual apa?!" seru ibu Kang Woo, memukul kepala putrinya.
"Kau menderita penyakit kanker apa?" tanya ayah Kang Woo.
Seok Bong terdiam. "Itu..." Ia tidak bisa menjawab.

Gagal mendapatkan uang dari orang tua Kang Woo, maka Seok Bong berusaha mendapatkan uang dari Kapten Hotel. Namun usahanya tetap gagal.
Jika kau butuh uang datanglah pada Lee Shin Mi." kata Kapten. "Katakan padanya bahwa kau menyelamatkan nyawanya. Kini giliran ia menyelamatkan nyawamu."
Lee Jong Heon, Presiden perusahaan Oh Sung sekaligus ayah Shin Mi, mengadakan rapat bersama orang-orang tertinggi Oh Sung. Mereka membicarakan mengenai lahan di Jeju yang gagal mereka dapatkan karena sudah dibeli orang lain. Jong Heon memerintahhkan mereka mendapatkan lahan tersebut.
"Aku akan mencobanya." kata Shin Mi menawarkan diri.
"Ini adalah pekerjaan yang sangat sulit." kata Jong Heon ragu.
"Ini menyangkut perusahaan." kata Shin Mi. "Aku akan berusaha mendapatkannya secepat mungkin."

Seok Bong menemui Shin Mi sambil membawa makanan, untuk mengganti makanan pemberian Shin Mi.
"Menyesal telah memakan makanan itu." kata Seok Bong. "Karena aku telah menyelamatkan nyawamu, maukah kau menyelamatkan nyawaku? Jika aku tidak mendapatkan uang 100 juta, maka aku akan mati."
"Aku tidak mau." tolak Shin Mi.
"Berikan padaku."
"Tidak!" kata Shin Mi tegas.
Kapten Hotel dan beberapa bellboy datang untuk menarik Seok Bong pergi dengan paksa.
Usaha Seok Bong untuk membujuk Shin Mi tidak berhenti sampai disitu. Setiap kali ia bertemu dengan Shin Mi, ia selalu meminta uang. Di lift, bahkan saat Shin Mi sedang makan malam bersama ayahnya.
Seok Bong memberitahukan Jong Heon bahwa ia telah menyelamatkan nyawa Shin Mi, berharap Jong Heon akan memberinya uang.
"Apakah kau sudah memberikan sesuatu padanya?" tanya Jong Heon pada Shin Mi. "Kau harus membayar hutangmu budimu padanya."
"Ya, aku sudah memberinya makan malam." jawab Shin Mi.
"Makanan?" tanya Jong Heon, terdiam beberapa saat. Seok Bong menunggu. "Bagus sekali." kata Jong Heon.
Senyum menghilang dari wajah Seok Bong. "Maaf?"
"Makanan." kata Jong Heon. "Kurasa itu sudah cukup."
Seok Bong gagal lagi.
Shin Mi datang menemui Tae Hee saat Tae Hee sedang melakukan yoga.
"Apakah kau membeli lahan itu?" tanya Shin Mi. "Kenapa? Karena Kak Woon Suk?"
"Karena kau." jawab Tae Hee. "Mulai saat ini, menjauhlah darinya."
Shin Mi menarik napas dalam-dalam. "Jika kau membeli lahan itu demi bisnis, aku bisa mengerti. Tapi untuk laki-laki? Apa menurutmu uang itu lelucon? Kau terlihat sangat menyedihkan."
"Kurasa kau datang kemari bukan untuk mengajariku." kata Tae Hee kesal. "Putus dengannya."
"Bagaimana aku bisa putus jika berkencan saja tidak?" tanya Shin Mi. "Aku tidak tertarik pada pria. Berikan saja lahan itu padaku."
"Tidak akan." kata Tae Hee. "Kau membuatku semakin marah! Kenapa kau menolaknya?"
"Sekarang aku tahu kenapa ia menolakmu." kata Shin Mi. "Kau orang yang egois, tidak peduli pada orang lain dan kekanak-kanakan."
Tae Hee sangat marah dan menjambak rambut Shin Mi.
"Lepaskan aku!" teriak Shin Mi.
Shin Mi dan Tae Hee berkelahi, jambak-jambakan rambut.
Shin Mi meminta Woon Suk menjauhinya. "Kepalaku sudah cukup pusing memikirkan perusahaan." katanya.
"Aku akan membantumu dengan berada di sisimu." kata Woon Suk. "Aku yakin bisa menjagamu dan perusahaan. Percayalah padaku."
"Aku tidak percaya pada siapapun." kata Shin Mi dingin. "Terutama orang yang berkata padaku untuk mempercayainya. Pergilah."
Boo Kwi Ho, ayah Tae Hee sekaligus pemilik perusahaan Buho, mengajari putra bungsunya matematika. Ia kesal melihat putranya itu tidak juga mengerti.
"Bagaimana kau bisa menjadi pengusaha yang hebat jika menghitung matematika saja tidak bisa?" tanya Kwi Ho.
Setelah makan kue tart dengan kalap, Tae Hee menemui Kwi Ho untuk meminta agar ayahnya itu menjatuhkan Perusahaan Oh Sung. Jika Perusahaan Oh Sung terlalu besar, cukup menjatuhkan Perusahaan Frontier (milik ayah Woon Suk) saja.
Kwi Ho menolak. Sebagai gantinya, ia memberikan kartu kredit agar Tae Hee bisa berbelanja sepuasnya.
Dengan diam-diam, Kwi Ho menghubungi anak buahnya dan memerintahkan agar mereka mengawasi Woon Suk dan Perusahaan Frontier, termasuk account bank, hutang dan sebagainya.
Seok Bong melihat So Jung kesulitan membawa sebuah koper dan barang-barang lain. Ia menawarkan diri untuk membantu.
Shin Mi menatap Seok Bong tajam. "Kau sangat ahli mencium bau uang." katanya.
Seok Bong terkejut. Oh, rupanya isi koper itu uang.
"Karena itu uang presiden, kau harus menjaganya baik-baik." kata Shin Mi pada So Jung. "Jika sampai hilang, habislah kita."
So Jung hendak menyimpan koper dalam brankas, tapi Shin Mi melarang. "Kita harus menghitungnya dulu."
"Semua ini?" tanya So Jung.
"Kita tidak boleh kehilangan satu lembar pun." kata Shin Mi.
Total uang di koper itu ada 100 juta. Shin Mi dan So Jung menghitungnya satu per satu. Seok Bong menawarkan diri untuk menghitung, tapi Shin Mi menolak.
Malamnya, dengan diam-diam Seok Bong mengambil kunci kamar Shin Mi meja hotel depan. Setelah itu, ia mengendap-endap masuk ke kamar Shin Mi dengan membawa sebuah koper lain yang persis sama dengan koper Shin Mi.
Ketika Seok Bong hendak keluar, mendadak Shin Mi datang bersama So Jung dan Ketua tim.
"Koper ini milikku." kata Seok Bong.
Ketua tim memukul kepala Seok Bong hingga pingsan. Ia kemudian membuka koper. Koper tersebut kosong. Rupanya Seok Bong mengurungkan niatnya untuk mencuri.
Seok Bong tersadar di sebuah tempat tidur nyaman di suite room milik Shin Mi. Ia berjalan keluar, Shin Mi mengajaknya sarapan bersama.
Dengan malu-malu, So Jung memberikan dua telur mata sapi pada Seok Bong. Shin Mi menatap So Jung tajam.
"Kau pikir nyawamu seharga dengan 100 juta?" tanya Shin Mi pada Seok Bong.
Seok Bong tersedak. "Itu adalah harga nyawamu." katanya. "Aku menyelamatkan nyawamu. Aku menginginkan uang 100 juta sebagai bayaran atas nyawamu."
"Apakah kau punya hutang?"
"Sesuatu yang lebih berbahaya dari itu." kata Seok Bong. "Kanker."
"Kanker apa?" tanya Shin Mi tenang. Seok Bong tidak bisa menjawab. Ia terlalu malu untuk mengatakannya. "Bagiku, makanan lebih berharga dibanding uang 100 juta."
Shin Mi menawarkan kesepakatan dengan Seok Bong. Jika Seok Bong bisa menyelesaikan satu tugas darinya, maka ia akan memberikan uang 100 juta pada Seok Bong.
"Ini adalah kontrak untuk hotel baru." kata Shin Mi, menyerahkan sebuah berkas. "Tapi pemilik lahan menolah untuk menjualnya. Jika kau bisa membuatnya menandatangani ini, maka kau akan mendapatkan 100 juta." Melihat Seok Bong terdiam, Shin Mi bertanya, "Kenapa? Kau tidak yakin?"
"Ya." jawab Seok Bong jujur. "Kau juga tidak yakin, karena itulah kau menyerahkan tugas ini padaku."
Shin Mi hendak mengambil kembali dokumen itu, tapi Seok Ho melarang. "Walaupun aku tidak yakin, tapi tetap saja aku harus mencobanya."


cr :http://princess-chocolates.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar